Belajar Menerima dari Hikmah

"Pada akhirnya, kita sadar, semua nggak bisa kembali seperti semula. Nggak ada jalan lain, selain melepas dan menerima (ikhlas)"

Dikutip dari buku What's So Wrong About Your Life oleh Ardhi Mohamad

Selepas menunaikan kewajiban setelah waktu maghrib, aku iseng mengambil buku yang kupinjam dari temanku. Aku membuka bukunya secara random kemudian membacanya. Bab yang kubaca ternyata tentang melupakan masa lalu bukanlah suatu jawaban. Aku mencoba membacanya paragraf demi paragram menuntaskan bacaan di bab itu. 

Setelah membaca bagian bab tersebut ada beberapa hal yang bisa di-highlight, bahwa forgetting is not the option. Ada pun menurut Elisabeth Kubler-Ross, ketika kita kehilangan sesuatu yang bermakna, kita akan melewati lima fase berduka, yaitu denial (penyangkalan), angry (marah), bargaining (tawar-menawar), depression (depresi), dan acceptance (penerimaan).
                                                                                 

Penjelasan 5 Fase Berduka :
Penyangkalan : sulit percaya atas apa yang terjadi
Marah : marah kepada orang yang bahagia, yang baik-baik saja, yang meninggalkan kita, marah kepada diri sendiri, marah pada keadaan, dst.
Tawar-menawar : memohon, berdoa agar tidak kehilangan
Depresi : merasa kehilangan harapan, paling menderita
Penerimaan : sadar bahwa semua nggak bisa kembali, melepas & menerima
                                                                                 

Penerimaan, tahap paling sulit, nggak semua orang bisa termasuk aku. Pun sebenarnya tulisan ini dibuat sebagai bentuk melampiaskan emosi atas kehilangan sesuatu yang menurutku berarti. Jujur aku tidak menerima ini, bagaimana bisa aku membeli pulsa sekian ribu lalu aku daftarkan paket internet, aku pun belum sempat memakainya eh tahu-tahu sudah hilang, lenyap. Ternyata eh ternyata setelah dicek berkali-kali, kuota yang baru saja aku daftarin masa aktifnya mengikuti masa aktif yang kuota sebelumnya dan aku belum berhenti dari paket pertama yang mana masa aktifnya berakhir sore tadi. Huhh, rasanya kesel ingin sekali marah, tapi entah marah kepada siapa. Ingin marah sama operatornya, tapi ini bukan salahnya :( Mungkin aku terkesan berlebihan dalam menanggapi suatu hal terutama masalah kuota haha :'D tapi jujur tak bisa disangkal bahwa inilah yang sedang dirasakan.

Lagi-lagi aku mencoba menahan amarahku, mungkin ini sebagai bentuk pelajaran dari-Nya. Allah ingin aku belajar sabar dan menerima lewat ujian sederhana seperti ini. Karena kuyakin di luar sana masih banyak orang yang diuji dengan ujian yang lebih besar dari ini, bisa jadi kehilangan harta bendanya karena kebakaran, kehilangan dompetnya karena kecopetan, kehilangan orang yang disayang karena kecelakaan, dst. Astaghfirullah. Masalah, ujian yang sedang menimpaku ini masalah kecil, sepele tapi kok masih mengeluh saja. Aku jadi teringat dengan video yang pernah ibu perlihatkan padaku yang intinya Allah memberi kita ujian supaya kita naik kelas. Sungguh aku tertohok dengan kata-kata tersebut. Seperti halnya anak SD, bagaimana kita mau naik kelas kalau kita nggak mau ikut ujian? 

Pada akhirnya atas setiap ujian, masalah, dan cobaan yang Allah hadirkan menuntun kita untuk mulai menerima. Terima bahwa masa lalu telah berlalu dan yang terjadi adalah apa-apa yang memang harus terjadi. Kehilangan yang seharusnya membuat kita bergegas haluan pada sesuatu yang lebih kekal dan abadi --- Sang Pencipta. Mulai mempersiapkan sesuatu yang lebih dari sekadar duniawi, dunia yang penuh dengan kekecewaan dan kehilangan.

Aku sadar mungkin ini jawaban atas keinginanku yang mana ingin berhenti berlama-lama dengan gadget berada di genggaman tanganku, aktivitas yang membuat hidupku jadi tak produktif. Kejadian yang mengingatkanku untuk fokus pada tugas dan kewajiban yang menjadi prioritas. Bukan hal mudah menerima setiap kejadiah pahit ini, tapi lagi-lagi bisa diupayakan, ojo grusa-grusu sabar terima bae. Ingatkah aku bukankah waktu dan sumber dayaku terbatas sehingga harus benar-benar bijak dalam menggunakannya. Berlarut-larut pada kekecewaan dan amarah bukanlah pilihan yang ada bukannya menyelesaikan malah nambah masalah yang tak berkesudahan. Lagi-lagi semua ini ada hikmahnya dan inilah hikmahnya. Selamat belajar menerima dari hikmah :)

Komentar

Postingan Populer